Nilai yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari adalah?
Nilai yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari adalah seorang ibu selalui didurhakai anaknya
Nilai yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari adalah seorang ibu selalui didurhakai anaknya
Cermati kutipan cerita berikut untuk menjawab soal nomor 8 dan 9!(1)Ke sebelah kanan, Kawan, sebab sebelah kiri penuh sesak teman-teman kita yang sedang melihat pula.(2)Lihat, lepu ayam ikan ganjil, sirip dan ekornya tumbuh melebihi panjangnya dari ikan biasa, sehingga merupakan ayam kalkun.(3)Dengan warnanya yang kemerah-merahan bercampur putih itu, sepadan benar dengan lenggoknya perlahan-lahan di air tenang.(4)Semua teman-temannya tidak diperdulikannya.(5)Dengan sombong katanya” adakah yang melebihi kegagahan dan kebagusankuAkulah raja keindahan di air ini.Lihatlah, mereka lari, malu seraya menyingkirkan diri.” (Tinjaulah Dunia Sana, Maria Amin)Pembuktian watak tokoh yang suka pamer terdapat pada kalimat bernomor -3
Cermatikutipan novel berikut ini!Di rumah aku belajar sampai jauh malam dan penyakit insomnia ternyata malah mendukungku. Aku adalah penderita insomnia yang paling produktif karena saat-saat tak bisa tidur kugunakan untuk membaca. Jika kelelahan belajar aku melakukan penyegaran mental yaitu kembali membuka buku. Seandainya Mereka Bisa Bicara dan di sana kutemukan bagaimana Herriot menghadapi kesulitan membuktikan dirinya di depan para petani Derbyshire yang sangat skeptis, keras kepala, dan antiperubahan. Dari buku itu juga aku merasakan angin pagi lembah Edensor yang dingin bertiup merasuki dadaku yang sesak setelah menyelusup di antara dedaunan astuaria. Membaca semua itu semangatku kembali terpompa dan hatiku semakin bening siap menerima pelajaran-pelajaran baru.(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)Pendeskripsian watak tokoh Aku yang cerdas diungkapkan melalui pikiran tokoh
Cermatikutipan berikut untuk menjawab soal!Betul. Semasa kecil, saya sering didongengi ibu. Katanya hidup di surga itu nyaman sekali, tinggal tunjuk langsung jadi. Mau anggur akan diantar ke hadapan. Mau minum dan makan juga demikian. Bukankah sekarang zaman juga sudah begini Haus dan lapar tinggal buka ponsel. Hanya perlu satu jari untuk membuatnya ada di depan mata. Lalu, mengapa harus susah payah memasak segala. Memasak yang dimaksud ibu saya bukan sekadar bisa, melainkan memang lihai sebab akan memengaruhi rasa.Sekali lidah harus langsung enak terasa sehingga sampai sajian tandas di piring kenangan baiklah yang terbawa. Maka, demi memenuhi angan-angan punya anak perempuan yang bisa menyajikan penganan enak itu, ibu kemudian mendesak saya datang ke rumahnya.Ambil libur dua hari apa tidak bisa sama sekali desaknya di ujung telepon.Saya menjepit ponsel di antara kepala dan bahu sementara sepasang tangan masih berusaha melepaskan sarung karet berwarna pucat. Saya memang baru keluar dari ruang operasi ketika ibu menelepon lagi untuk kesekian kali.(Semangkuk Perpisahan di Meja Makan, Miranda Seftiana)Keterkaitan isi kutipan tersebut dengan kehidupan sehari-hari adalah ketika lapar dan haus, seseorang dengan mudah bisa memesan makanan lewat ponselnya.
Cermatikutipan cerpen berikut untuk menjawab soal!Dua gentong berusia ratusan tahun itu bagai sepasang manusia renta yang tercampakkan. Keduanya duduk muram di sudut kamar paling belakang. Menekur diam. Bibirnya berlumur lelehan pewarna yang pekat dan sudah mengering.Menatap gentong tua itu tiba-tiba aku seperti melihat bayangan ibumu. Melihat kedua tangannya yang berwarna kerak nasi dan telah menghasilkan lembar-lembar batik gentongan, yang sebagian dijual dan sebagian lagi sudah dipersiapkan untuk pernikahanmu, sebagaimana kewajiban seorang ibu memersembahkan hadiah itu, meskipun sudah pernah kautegaskan bahwa itu tidak perlu!Dialah perempuan Tanjungbumi yang tak lelah menyunggi tradisi meskipun berkelindan dengan sepi.Hanya pada dua gentong tua itu akan kautemukan bayangan ibumu. Bersama benda peninggalan leluhur itulah ibumu berkarib memilin sepi. Menunggumu pulang dengan kerinduan berkelindan. Dan kini, benda tua itu tampak muram ditinggal pemiliknya. Gelap yang tersisa saat kulongokkan kepala, mengintip ke dalam. Mirip bilik hati ibumu; tak tertebak bagai lorong rahasia yang panjang.(Gentong Tua, Muna Mayasari)Maksud dari bilik hati dalam kutipan tersebut adalah perasaan
Cermatiteks berikut!Teks 1Suara-suara bising beragam bahasa dunia yang menyelinap dari balik jendela terbuka mulai perlahan menyenyap. Malam makin sepuh. Kubayangkan, para turis yang mulai letih telah memenjarakan dirinya di kamar-kamar hotel untuk menukarkan penat.Suaramu masih benderang, ceritamu seolah tak berujung, sementara ujung malam beringsut mendekat.(Gerimis Senja di Praha, Eep Saefulloh Fatah) Teks 2Ia menatap sembari mengangguk-angguk. dengan sedikit terkekeh ia balik badan, pergi begitu saja. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas. Tampaknya, ia orang paling ditakuti di daerah kami ini.Kemudian, di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar. Pucat membias di wajahnya. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam.Kita pindah saja. Salah-salah, orang itu bisa ancam kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi, tidak takut mati. Nekat! Memelas suara istri saya. Saya mencoba menenangkannya.(Pisau, Yusrizal KW)Ringkasan isi cerita pada teks 2 adalah istri yang ketakutan karena perilaku kasar seseorang.
Cermati dengan teliti teks sastra berikut ini! Suatu hari Datuk Maringgih pergi ke rumah Baginda Sulaiman yang sedang sakit untuk menagih piutangnya. Di sanalah Datuk Maringgih terpesona melihat kecantikan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih memaksa Baginda Sulaiman untuk menjadikan Siti Nurbaya sebagai istri mudanya kalau ayah Siti Nurbaya tak sanggup untuk membayar utangnya. Siti Nurbaya menolaknya, karena dia sudah punya kekasih, yakni Syamsul Bahri. Tapi Siti Nurbaya tak berdaya dan akhirnya dipersunting oleh Datuk Maringgih yang berumur sebaya dengan ayahnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Syamsul Bahri. Hatinya sangat sedih dan mencoba bunuh diri. Penyebab konflik yang menimpa tokoh Siti Nurbaya adalah ayahnya tidak mampu membayar utang pada datuk maringgih.
Bacalah kutipan teks novel berikut!Aku dan Rangga iseng-iseng mengambil antrean di antara para turis Asia Timur yang sangat percaya dengan mitos semacam itu. Turis-turis itu begitu antusias untuk menyentuh dan berfoto di atas point zero hingga platnya luntur menjadi putih mengkilap. Aku mendengar nama oran lain, berharap bisa kembali lagi ke Paris bersama keluarga, kekasih, atau teman dekat mereka. (99 Cahaya di Langit Eropa: Hanum Salsabeila Rais dan Rangga Almahendra)Unsur ekstrinsik yang terdapat dalam penggalan novel tersebut adalah nilai budaya
Topik:Membaca TerbatasIndikator: Peserta didik dapat melengkapi unsur teks Sang Pemimpi adalah novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel ini menceritakan kisah kehidupannya di Pulau Belitung yang dililit kemiskinan. Ada tiga remaja SMA yang bermimpi untuk melanjutkan sekolah hingga ke Perancis menjelajah Eropa hingga ke Afrika. [.] Kalimat yang menyatakan keunggulan untuk melengkapi teks tersebut yang tepat adalah novel yang disajikan dengan bahasa yang luas ini mampu menyihir pembaca seakan ikut merasakan kebanggaan dan kesedihan para tokohnya.
“Jimbron adalah seorang yang membuat kami takjub dengan tiga macam keheranan. Pertama, kami heran karena kalau mengaji, ia selalu diantar seorang pendeta. Sebetulnya beliau adalah seorang pastor karena beliau seorang Katolik, tapi kami memanggilnya Pendeta Geovany. Rupanya setelah sebatang kara seperti Arai ia menjadi anak asuh sang pendeta. Namun, pendeta berdarah Itali itu tak sedikit pun bermaksud mengonversi keyakinan Jimbron. Beliau malah tak pernah telat jika mengantarkan Jimbron mengaji ke masjid” (SP, 61) Pandangan pengarang dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata tersebut adalah pengarang menghadirkan tokoh jimbron dalam novel sang pemimpi mencerminkan tokoh yang taat beragama dengan mengaji setiap harinya, walaupun dia hidup di lingkungan agama yang berbeda, yaitu agama katolik. kemudian pengarang juga menghadirkan cerminan toleransi dan jiwa sosial melalui tokoh pendeta.