Hari ini ayah tidak pergi bekerja, Dani pun sedang libur sekolah. Dani yang sedang mengerjakan tugas liburannya melihat ayah yang sedang sibuk membetulkan sepeda motornya. Lantas Dani mendekati ayah, Butuh bantuan, Yah?, tanyanya polos. Saat itu Dani masih duduk di bangku SMP.Boleh-boleh, jawab ayah. Mereka banyak berbincang selama membetulkan sepeda motor pada Dani dan Dani pun menikmatinya. Kalau sudah besar nanti kamu mau jadi apa? tanya ayah padanya. Dani ingin menjadi pembalap yah, seperti Valentino Rossi, Dani secara spontan menjawab.oh ya? Wah hebat. Namun pembalap harus tahu bagian terpenting dari motor. Kamu tahu?, tanya ayah pada Dani. Dani pun berpikir, apa ya yang paling penting? Bukti watak tokoh ingin tahu kutipan cerpen tersebut adalah

Hari ini ayah tidak pergi bekerja, Dani pun sedang libur sekolah. Dani yang sedang mengerjakan tugas liburannya melihat ayah yang sedang sibuk membetulkan sepeda motornya. Lantas Dani mendekati ayah, Butuh bantuan, Yah, tanyanya polos. Saat itu Dani masih duduk di bangku SMP.Boleh-boleh, jawab ayah. Mereka banyak berbincang selama membetulkan sepeda motor pada Dani dan Dani pun menikmatinya. Kalau sudah besar nanti kamu mau jadi apa tanya ayah padanya. Dani ingin menjadi pembalap yah, seperti Valentino Rossi, Dani secara spontan menjawab.oh ya Wah hebat. Namun pembalap harus tahu bagian terpenting dari motor. Kamu tahu, tanya ayah pada Dani. Dani pun berpikir, apa ya yang paling penting Bukti watak tokoh ingin tahu kutipan cerpen tersebut adalah dani pun berpikir, apa ya yang paling penting?

()Ke mana hendak dicarikannya uang tiga juta rupiah untuk diserahkan kepada keluarga calon mertuanya. (2)Uang itu akan digunakan sebagai pengisi sudut namanya, suatu istilah untuk menamakan pemberian pihak calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan.(3)“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mak?” tanya Inop agak melotot kepada anaknya.(4)“Kau sudah aku bilang, tak usah buru-buru kawin. Kababini seperti orang sasak cirik sajo. Kini aden juo yang susah!” jawab Mak marah.(5)Sekarang bukan satu, tiga puluh tiga uban sehari bertunas di kepala Inop. Nilai budaya terkandung dalam kutipan cerita di atas, ditunjukkan oleh nomor

()Ke mana hendak dicarikannya uang tiga juta rupiah untuk diserahkan kepada keluarga calon mertuanya. (2)Uang itu akan digunakan sebagai pengisi sudut namanya, suatu istilah untuk menamakan pemberian pihak calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan.(3)“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mak” tanya Inop agak melotot kepada anaknya.(4)“Kau sudah aku bilang, tak usah buru-buru kawin. Kababini seperti orang sasak cirik sajo. Kini aden juo yang susah!” jawab Mak marah.(5)Sekarang bukan satu, tiga puluh tiga uban sehari bertunas di kepala Inop. Nilai budaya terkandung dalam kutipan cerita di atas, ditunjukkan oleh nomor -2

Rebuslah air bersih secukupnya sampai mendidih! Setelah itu, celupkan daun jeruk purut beberapa saat agar daun itu menjadi lunak! Lalu, angkatlah daun jeruk purut itu dan tiriskan! Tumbuk selembar daun pandan dan diberi air matang! Setelah itu, peraslah untuk diambil airnya! Kata-kata yang bermakna perintah adala ,

Rebuslah air bersih secukupnya sampai mendidih! Setelah itu, celupkan daun jeruk purut beberapa saat agar daun itu menjadi lunak! Lalu, angkatlah daun jeruk purut itu dan tiriskan! Tumbuk selembar daun pandan dan diberi air matang! Setelah itu, peraslah untuk diambil airnya! Kata-kata yang bermakna perintah adala , rebuslah, celupkan, tumbuk, peraslah

Bacalahpenggalan hikayat berikut!”Janganlah adinda bertanya jua” jawab baginda dengan sedihnya. ”Pertanyaan itu hanya menambah luka Tuanku jua semata.””Ampun, Tuanku, orang yang arif tiada pernah putus asa sekali pun bagaimana juga cobaan yang datang ke atas dirinya. Tiada pula ia bersedih hati karena kesedihan tiada buahnya selain daripada menguruskan badan saja yang sudah ditakdirkan tiada juga akan tertolak olehnya.”(Hikayat Kalilah dan Dimnah)Amanat dalam hikayat tersebut adalah

Bacalahpenggalan hikayat berikut!”Janganlah adinda bertanya jua” jawab baginda dengan sedihnya. ”Pertanyaan itu hanya menambah luka Tuanku jua semata.””Ampun, Tuanku, orang yang arif tiada pernah putus asa sekali pun bagaimana juga cobaan yang datang ke atas dirinya. Tiada pula ia bersedih hati karena kesedihan tiada buahnya selain daripada menguruskan badan saja yang sudah ditakdirkan tiada juga akan tertolak olehnya.”(Hikayat Kalilah dan Dimnah)Amanat dalam hikayat tersebut adalah menghormati perasaan orang lain

Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar maka Towjatuwa dan keturunannya akan mati. Sejak saat itu Towjatuwa dan anak keturunannya berjanji untuk melindungi bintang yang berada di sekitar sungai Tami dari para pemburu.Pesan Moral yang terdapat pada cerita tersebut adalah

Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar maka Towjatuwa dan keturunannya akan mati. Sejak saat itu Towjatuwa dan anak keturunannya berjanji untuk melindungi bintang yang berada di sekitar sungai Tami dari para pemburu.Pesan Moral yang terdapat pada cerita tersebut adalah pentingnya menepati janji